Sabtu, 22 Juli 2017

MAKALAH CINTA DUNIA DAN LUPA AKHIRAT



BAB VI
. CINTA DUNIA & LUPA AKHIRAT
          


BAB VI
     Allah swt. Menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda – beda. Ada yang ditakdirkan menjadi orang kaya dan ada juga yang ditakdirkan menjadi orang miskin, ada yang dalam keadaan bencana, ada yang dalam keadaan aman. Itu baiknya kita harus melakukan sesuatu kebaikan sebelum kembali ke kehidupan hakiki nanti.
      Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin ( rahmat bagi seluruh alam ). Islam mendidik umatnya untuk memiliki akhlak karimah ( perilaku terpuji ) dan menjauhi akhlak mazmumah ( perilaku tercela ). Salah satu perilaku tercela yang harus dijauhi ialah tamak terhadap harta. Sifat tamak terhadap harta sudah ada sejak adanya manusia. Banyak contoh yang dapat kita baca, seperti Qarun dan Sa’labah.
      Memang islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja mencari nafkah, tetapi dengan cara baik dan halal. Dengan bekerja, manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya berupa sandang, pangan dan papan. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, harta benda juga harus dimanfaatkan untuk bertujuan beribadah kepada ALLAH swt. Bukannya malah menjadi tamak.
     Zaman sekarang, tampaknya berkembang kehidupan yang bersifat konsumtif. Hal ini mendorong timbulnya sifat hidup cinta dunia jika tidak disadari dengan keimanan yang kuat. ALLAH swt. Telah banyak mengingatkan kepada kita tentang bahaya orang yang memiliki sifat cinta dunia dan lupa terhadap akhirat.
     Kiranya tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia mencintai dunia ini, baik yang berupa kekayaan harta, kedudukan maupun lawan jenisnya. Islam tidak melarang manusia mencintai dunia, karena memang dunia ini diciptakan ALLAH swt. Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sungguhpun demikian, manusia tidak diberi kebebasan dalam mencintai dunia.
 Hampir semua manusia di dunia ini mencintai banyak harta. Di antara wujud harta adalah uang. Islam tidak melarang umatnya memiliki banyak harta selama harta tersebut diperoleh dengan cara yang baik. Selain itu,apabila harta yang dimiliki telah mencapai nisab, wajiblah bagi pemiliknya untuk mengeluarkan zakat sekali dalam setahun. Dengan mengeluarkan zakat, berarti membersihkan diri dari sifat kikir dan membersihkan harta dari hak orang lain.
Islam memberi batasan-batasan yang wajib ditaati demi kebaikan bagi manusia itu sendiri. Apabila manusia mengabaikan batasan-batasan tersebut, maka bahaya telah mengancam bagi diri manusia itu sendiri.
 Tahukah kalian batasan apa yang dimaksud ? Maksudnya, bahwa manusia boleh mencintai dunia, namun jangan sampai melupakan kehidupan diakhirat nanti bagaimana. Kemudian kapankah hidup yang hakiki itu ? Hidup yang hakiki adalah hidup di akhirat, yaitu hidup kedua sesudah mati.
Mari kita mengkaji penjelasan lebih lanjut pada bab ini.


A.https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmuVnhd-dRo52Wpj_wcT1W5QJSsTjTxRPiS9enhxQNpuSstehOyV6DoP0j715IaHZJ20cesrpXV-MKnq8XZBgdAGh2s52UF9ljovG1V8WR1hLFWVWjMBP8KXqISu2EsO_2UYpPok9oCSw/s1600/ldii-sidoarjo-utara-jangan-terlalu-senang-dunia.jpgCINTA DUNIA & LUPA AKHIRAT
1. Pengertian Cinta Dunia & Lupa Akhirat
    

    






 Cinta dunia pada umumnya bermakna negatif dan  merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Cinta dunia bermakna haus jabatan, ambisi dengan kekayaan dan sejenisnya.
Di sisi lain, dunia telah menemani keseharian setiap orang. Fasilitas seperti rumah, makanan, kendaraan, praktis telah menjadi pendamping hidupnya. Hari-harinya untuk mengais rezeki, untuk mendapatkan sarana dan fasilitas hidupnya.

          Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)
           Cinta terhadap dunia berarti berlebihan dalam mencintai kehidupan di dunia dan melupakan kehidupan di akhirat nanti. Orang yang demikian berarti memiliki sifat tamak atau rakus

2. Dampak Negatif memiliki SIFAT Cinta Dunia & Lupa Akhirat
    Pertama : Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh. Termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa Jalla. 
Kedua : Allâh mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa yang mencintai apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan berhadapan dengan kutukan, murka, dan kebencian-Nya. 
Ketiga : Mencintai dunia berarti menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allâh yang seharusnya menjadi sarana menuju Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat berubah arah menjadi mengejar kepentingan dunia. Di sini ada dua persoalan: (1) menjadikan wasilah (sarana) sebagai tujuan, (2) menjadikan amal akhirat sebagai alat untuk menggapai dunia. 
Ini merupakan keburukan dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴿١٥﴾أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]
Keempat : Mencintai dunia membuat manusia tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat, akibat dari kesibukannya dengan dunia dan kesukaannya.
Kelima : Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
Keenam : Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak tersiksa. Ia tersiksa dalam tiga keadaan. Ia tersiksa di dunia saat bekerja keras untuk mendapatkannya, dan berebut dengan sesama pecinta dunia. Dia tersiksa di alam barzakh (kubur) dan tersiksa pada hari Kiamat.
Ketujuh : Penggila harta dan pecinta dunia yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan mimpi daripada kenyataan, lebih mengutamakan bayang-bayang yang segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi nan nyaman dengan kehidupan yang tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang akan sirna dalam waktu singkat. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan hal-hal semacam itu.

B. SIFAT TAMAK
1. Pengertian Tamak
 مَابَسَقَ اَغْصَانُ ذُلٍّ اِلاَّ عَلَى بِذْرٍ طَمَعٍ 
Artinya :
“Tidaklah akan berkembang biak cabang-cabang kehinaan itu, hanyalah di atas biji ketamakan." 

Tamak berasal dari bahasa arab Tamak berasal dari Bahasa Arab   طمع-يطمع-طمعا  yang berarti loba ,rakus , terlampau besar keinginan  untuk memperoleh harta yang banyak. Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar

      Menurut bahasa SERAKAH sering disebut dengan TAMAK  yang artinya tidak pernah merasa puas dengan hasil yang sudah didapatkan. Menurut istilah Tamak yaitu cinta kepada dunia(hubbud dunya) berupa harta benda terlalu berlebihan tanpa memperdulikan hukum haram yang menyebabkan adanya dosa besar. Pelakunya tidak pernah merasa puas ,segala cara pun dianggap halal. Serakah adalah salah satu dari penyakit hati yang sangat membahayakan . orang yang serakah senantiasa menginginkan sesuatu lebih banyak ,tidak peduli bagaimana cara untuk menempuhnya yang terpenting tujuannya tercapai meskipun harus melanggar syari’at. Ia tidak memikirkan apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Tujuan utama bagi dirinya adalah kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi.sifat serakah itu termasuk dari sifat syirik. Sikap serakah dan tamak itu dilarang oleh Allah Swt.

       Tamak juga adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Rifai sebagai sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama.

Tamak termasuk salah satu penyakit hati yang tidak istiqamah kepada anugerah Allah. Jiwanya gelisah, hendak begini hendak begitu. Terhuyung ke kiri dan ke kanan, seperti pohon yang dihembus angin. Tamak adalah sifat manusia yang ingin memborong segalanya dan mengumpulkan semuanya. Tidak ada yang ia sukai, semuanya ia suka tanpa mau mengetahui apa gunanya. Milik yang ada di tangan orang pun disukainya, untuk itu ia akan berusaha memperolehnya. Sifat tamak itu juga menghilangkan rasa malu. 

Tamak adalah sifat yang merusak amal, dan kebaikan diri yang sangat tidak sesuai dengan hidup orang beriman. Ketamakan yang merusak amal itu akan berakibat dengan kehinaan. Karena pada hakikatnya tamak adalah tanda kelemahan iman seseorang. Iman itu adalah wujud dari kemuliaan pribadi manusia, dan kemuliaan itu adalah sifat orang beriman.

2. Sifat-Sifat Tamak
Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh beliau seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak. Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup.

Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu tamaknya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba-Nya. Seperti dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْن
Artinya :
“ Dan ِAku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Tamak timbul dari waham iaitu ragu-ragu dengan rezeki yang dijamin oleh Allah SWT.  Karena itu Ibnu Athaillahmelanjutkan: “Tak ada yang lebih mendorong kepada Tamak melainkan imajinasi (waham) itu sendiri”, Dorongan imajinatif, dan lamunan-lamunan panjang yang palsu senantiasa menjuruskan kita pada ketamakan dan segala bentuk keinginan yang ada kaitannya dengan kekuatan, kekuasaan, dan fasilitas makhluk. Waham atau imajinasi itulah yang memproduksi hijab-hijab penghalang antara kita dengan Allah SWT, Sehingga pencerahan cahaya yakin sirna ditutup oleh hal-hal yang imajiner belaka.

Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan pula wahm, artinya angan-angan. Adapun wahm ini suka memaksa jiwa seseorang agar mengikuti kemauan dan angan-angan yang ada di benak dan perasaannya.
Sesungguhnya angan-angan itulah yang menjadi pemicu lahirnya sifat tamak dalam jiwa manusia. Angan-angan (wahm) termasuk menghayal atau lamunan yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi si pelamun. Kadang- kadang lamunan yang ada dalam pikiran yang abstrak itu melambung sangat tinggi, sehingga si pelamun berada di atas awang-awang yang menggambarkan suatu yang luar biasa yang sedang dialaminya, padahal sesungguhnya ia berada di atas bumi alam realita.
Wahm itu merusak pikiran dan mengundang kehendak yang berupa sifat rakus, perbuatan maksiat, mengambil milik orang, dan perbuatan yang mengundang kejahatan dan maksiat lainnya. Selain itu wahm merusak jiwa dan akhlak. Karena wahm akan membuat rekayasa negatif seakan-akan sudah positif. Semuanya berjalan di luar kemampuan yang dimiliki oleh si pelamun. 

Si penghayal tidak mau mengerti bahwa sebenarnya tidak mungkin lamunannya terwujud, sebab selain di luar kemampuan dirinya, juga tidak sesuai dengan kehendak Allah yang sudah ditakdirkan. Wahm itu bukan ikhtiar, akan tetapi semata-mata lamunan yang tentu saja tanpa rencana dan ikhtiar. Itulah sebab ketamakan dan kerakusan cepat lalui dari sifat tersebut. 

Hanya orang yang beriman kepada qada dan qadar Allah yang percaya bahwa hidup manusia ini berada dalam kendali Allah swt. Allah swt telah menetapkan sebelum semua perjalanan hidup manusia Keinginan seperti ini akan melepaskan manusia dari sifat tamak atau rakus, sehingga manusia terlepas pula dari perbuatan yang hina. Sebali pada dasarnya sifat tamak itu akan mudah menjadikan manusia sebagai budak karena lamunan yang tak putus-putus. 

3. Ciri-Ciri Orang Tamak
°         Tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya
°         Senantiasa merasa tidak cukup padahal ia telah banyak mendapatkan nikmat
°         Dia ingin mempunyai sesuatu yang dipunyai orang lain
°         Suka menghayal yang tidak realistis ( tuulul amal)
°         Tidak menghargai pemberian orang lain apabila tidak sesuai dengan keinginannya
°         Sangat semangat mengumpulkan harta tanpa memperdulikan waktu dan kondisi tubuh.
°         Semua kegiatannya selalu berorientasi pada materi
°         Terlalu mencintai harta yang dimiliki
°          Terlalu semangat mencari harta tanpa memperhatikan waktu dan kondisi tubuh
°         Terlalu hemat dalam membelanjakan harta
°          Merasa berat untuk mengeluarkan harta demi kepentingan agama dan sosial
°          Mendambakan kemewahan dunia
°         Tidak memikirkan kehidupan akhirat
°         Semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi.
°         Tidak pernah puas dengan kekayaan yang dimiliki.
°         Selalu menghitung untung rugi dengan materi, tidak mau melakukan sesuatu kalau tidak menguntungkan.
°         Hidupnya selalu terbelenggu untuk mencari keduniaan.
°         Tidak mau mengeluarkan uang jika tidak memberi keuntungan.
°         Tidak berpikir bahwa sebagian hartanya adalah milik fakir dan miskin.

4. Hukumnya Di Dalam Ajaran Islam
       Hukumnya ialah haram , Allah SWT memberi ancaman keras kepada mereka yang tamak, dijelaskan dalam surah Al-‘Aadiyat ayat 6-11:
يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ (88) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍإِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُوْدٌ (6) وَإِنَّهُ عَلىَ ذَالِكَ لَشَهِيْدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ (8)
أَفَلاَ يَعْلَمُ إِذَابُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِ (10)
إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيْرٌ (11)
Artinya :
6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta[4].
9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Dalam surah al-Fajr ayat 16-23, Allah berfirman:
وَأَمَّا إِذَا مَاابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّيْ أَهَانَنِ (16)
كَلاَّ بَلْ لاَّ تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ (17) وَلاَ تَحَاضُّوْنَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنَ (18)
وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمًّا (19) وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)
كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ اْلاَرْضُ دَكًّا دَكًّا (21) وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّاصَفًّا (22)
وَجِاىْ ءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَّتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (23)
Artinya:
16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhankumenghinakanku”[5].
17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim[6],
18. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
19. Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),
20. Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
21. Jangan (berbuat demikian). apabila bumi digoncangkan berturut-turut,
22. Dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris.
23. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.




5. Hasil gambar untuk gambar orang kaya yang tidak mau memberi sumbangan pada fakir miskinContoh orang yang tamak
                                                 








Orang-orang yang tamak adalah orang-orang yang hartanya masuk ke hati, melingkupinya dalam hitungan rugi-laba. Ketika dia berpikir bahwa hartanya dapat mengekalkannya di kehidupan ini maka mulailah dia krasak-krusuk mengumpulkan harta dengan segala cara tanpa memperhatikan batasan halal-haram. Dan ketika kewajiban datang kepadanya untuk berzakat atau bersedekah, menginfakkan sebagian hartanya, ia mulai mengambil sikap preventif terhadap harta tersebut, jangan sampai harta saya berkurang bahkan sepeserpun! Kalau pun kemudian dia mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya juga, yang terpikir kemudian adalah seberapa besar yang akan diperolehnya kembali. Inilah awal mula praktek suap, sogok-menyogok. Ia mengeluarkan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Inilah orang-orang kaya yang ketika berpakaian menutupi hatinya, bukan menutupi auratnya. Makanya ketika berpakaian auratnya berkibar dan pakaiannya hanyalah untuk mempertegas kesombongannya 

6. Larangan Bersifat Tamak:
       Larangan bersifat tamak di jelaskan di dalam Al-Qur’an surat:

v  Al Hadid Ayat 20
أِعْلَمُوْا أنَّمَا اْلْحَيَوةُاْلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌبَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌفِي الأَمْوَالِوَالأَوْلدِۖ كَمَثَلِ غَيْث
أَعْجَبَ اْلْكُفَّارَنَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَهُ مُصْفَرًا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَمًاۖ وَفِى اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةُ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَنٌۚ وَمَا اْحَيَوةَ الْدُّنْيَا اِلاَّ مَتَعُالْغُرُوْرِ۞
(ال حاديد/20:57)
      Artinya:
          Ketahuilah, sesungguhnya kehidupandunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan,perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan,seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani,kemudi(tanaman)itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.Dan akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenangan yang palsu(Q.S.al-Hadid/57:20)

         Menurut ayat diatas, sifat – sifat kehidupan dunia ada empat macam, yaitu :
a.    Permainan yang didambakan manusia
b.    Senda gurauan yang membuat manusia lupa pada kebahagiaan hakiki
c.    Perhiasan yang dibanggakan manusia
d.    Tempat berlomab mencari kekayaan dan membanggakan keturunan


C.  Memahami Kandungan Surah al-Humazah dan at-Takasur tentang Cinta Dunia dan Lupa Akhirat

1.    Al Humazah Ayat 1-9
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ۞ لَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ۞ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ۞ كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِى لْحُطَمَةِ۞ وَمَآ أَدْرَٮٰكَ مَا لْحُطَمَةُ۞ نَارُ للَّهِ لْمُوقَدَةُ۞ لَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى لْأَفْـِٔدَةِ۞ إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ۞ فِى عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍۭ۞
Artinya:
1.   kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela
2.   yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung
3.   Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya
4.   sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah
5.   dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
6.   (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan
7.   yang (membakar) sampai ke hati
8.   Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka
9.   (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang
a.    Pengertian surah al - humazah
Surat ini merupakan surat yang ke-32 yang diterima Rasulullahdan surat yang ke 104 berdasarkan urutan Mushaf al-Qur’an. Terdiri dari 9 ayat. Surat ini termasuk surat Makkiyah.
Nama surat dinamakan al-Humazah, artinya orang yang mengumpat dan mencela orang. Dinamakan juga al-Lumazah artinya orang yang  mencaci dan suka menyebut keaiban orang. Atau surat al-Hutamah artinya neraka al-Hutamah.

b.      Pokok-Pokok isi Surah Al-Humazah
    Dalam Surah Al-Humazah tersebut mengandung beberapa makna yang tertuju kepada orang-orang yang mengingkari perintah tuhan, yaitu bahwa Allah mengancam orang-orang yang suka mencela orang lain, suka mengumpat dan suka mengumpulkan harta namun tidak menafkahkannya di jalan Allah.

c.      Penutup Surah Al-Humazah
Dalam Surah ini diterangkan bahwa  orang-orang yang suka mencela orang lain, suka memfitnah dan suka mengumpulkan harta benda tetapi tidak pernah menafkannya di jalan Allah akan di Adzab (di masukkankeneraka wail).
·         Penafsiran Surah Al-Humazah
Berikut akan di jelaskan secara detail tentang tafsiran dari ayat-ayat dalam surah Al-Humazah sebagaimana di bawah yaitu:
1)      Ayat yang pertama menjelaskan bahwa pencelaakan celaka, di ayat tersebut terdapat kata “همزةyaitu mencela dari belakang atau secara tidak terang-terangan, dan juga terdapat kataلمزةyang artiya hamper bahkan bisa dikatakan sama dengan yang pertama tadi Cuma bedanya kata yang ini berarti mencela secara terang-terangan.
2)      Di ayat yang kedua disebutkan orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitungnya yaitu orang-orang yang menjadikan harta tersebut simpanan untuk para pemuda yang akan datang yaitu anak-anak mereka[2]. bahkan orang-orang itu mengumpulkan untuk memperbanyak hartanya[3].
3)      Ayat ketiga dijelaskan bahwa mereka mereka mengira bahwa hartanya dapat megekalkan mereka di dunia dan tidak akan pernah mati, bahan mereka menganggap bahwa apabila harta-harta mereka itu berkurang maka merekaakan mati,tidak lain alas an itu muncul karena kekikiran mereka.
4)      Selanjutnya ayat yang ke empat menjelaskan bantahan Allah terhadap orang-orang tersebut di atas bahwa Allah akan membuang mereka kedalam Neraka Huthamah yaitu api yang membakar semua orang yang terdapat di dalamnya, sebagian ulama berpendapat bahwa yang dibakar/yang di masukkan ke dalamnya adalah orang itu dan harta-harta mereka[4].
5)      Ayat keenam menjelaskan bahwa Huthamah yaitu api yang tidak pernah padam kecuali atas kehendak Allah SWT.
v  Asbabun Nuzul Surah Al-Humazah
Sebab-Sebab turunnya Surah Al-Humazah ini bermula atas beberapa riwayat yang berupa hadits seperti yang telah diutarakan oleh Imam Ibn Abu Hatim dan bersumber dari Sahabat Utsman Ibn Affan r.a dan Ibn Umar r.a dimana keduanya telah menceritakan Bahwa “Kami terus menerus mendengar bahwasannya Firman-Nya”_”Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela”.[5] Surah ini diturunkan berkenaan dengan sikap ibn Ubay bin Khalaf.
Selain itu imam ibn Hatim juga telah mengetengahkan hadits lainnya melalui As-Saddi yang telah menceritakan bahwasannya ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Al-Akhnas Ibn Syuraiq. Tidak hanya itu disisi lain ibnJarir juga mengetengahkan sebuah hadits melalui seorang laki-laki dari kalangan penduduk Al-Ruqqah yang telah menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaaan dengan Jamil Ibn Amir Al-Jumahi. Bahkan Imam Ibn Mundzir telah mengetengahkan sebuah hadits pula melalui Ibn Ishaq yang telah menccritakan bahwa Umayyah Ibn Khalaf apa bila melihat Rasulullah SAW. Langsung mengumpat dan mencela beliau, maka dari itu Allah SWT.Menurunkan Firman-Nya kepada beliau“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”[6].
Jadi berdasarkan riwayat-riwayat di atas dapat diambil benang merah bahwasannya Al-Humazah ini turun dikarenakan pada masa Rasulullah SAW. terdapat beberapa sahabat yang suka mencela dan sekaligus mengumpat kepada beliau.


2.   Al Takasur Ayat 1-8
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ۝ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ۝  كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝  ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ۝ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ۝ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ۝ ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ۝
Artinya:
1.   Bermegah-megahan telah melalaikan kamu  
2.   Sampai kamu masuk ke dalam kubur
3.   Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)
4.   Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5.   Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin
6.   Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim
7.   Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin 
8.   Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

a.    Pengertian Surah at - Takasur
Surah At-Takasur (bahasa Arab:التكاثر) adalah surah ke-102 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Al-Kausar. Dinamai At-Takasur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At-Takasur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

b.    Asbabul Nuzul (Sebab Turunnya)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah yang berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan dua kabilah dari golongan Anshar, yaitu Bani Haritsah dan Bain Harits yang saling membanggakan diri dan merasa lebih. "Apakah pada kalian ada yang seperti si Fulan dan si Fulan?" Pihak yang satu lagi juga melakukan hal serupa. Mereka saling membanggakan diri dalam hal orang-orang yang masih hidup.

Selanjutnya, mereka saling berkata, "Mari pergi ke pekuburan. Di sana, samil menunjuk-nunjuk ke kuburan. Kedua pihak juga saling berkata, "Apakah pada kalian ada yang sehebat si Fulan daan si Fulan?" Allah lalu menurunkan ayat, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur."

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ali yang berkata, "Sebelumnya, kami agak ragu terhadap keberadaan azab kubur hingga turunlah ayat, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." sampai ayat 4, kemudian sekali-kali tidak. Kelak kamu akan mengetahui yang berbicara tentang azab kubur.
Kandungan dan Sebab Turunnya Surah At-Takasur
c.    Penjelasan Ayat

Ayat 1 dan 2:
Memberikan gambaran kepada orang-orang yang beriman bahwa kebanyakan manusia mendambakan dan membanggakan kemewahan di dunia. Sifat ini akan terus ada hingga kematian menghampiri mereka dan melupakan mereka pada tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mengabdikan diri pada Allah swt.

Ayat 3-5:
Sebagai bantahan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apapun dari sikap suka membangga-banggakan kemewahan dunia maka mereka akan mengetahui balasan dari perbuatan mereka itu.

Ayat 6-8:
Mereka akan mendapat balasan, yaitu mereka akan menyaksikan neraka Jahim, mereka akan merasakan siksaan di dalamnya, dan kemegahan yang dibangga-banggakan di dunia tidak akan bisa menolongnya lagi.

D.   Keterkaitan  Al Humazah &  At Takasur
·         Menceritakan Bermegah – megahan atau membagakan kemewahan di dunia
·         Menceritakan orang yang menganggap kemewahan dunia bersifat kekal
·         Menceritakan Balasan Bagi orang yang terlalu mencintai harta dan melupakan akhirat
E.   Dampak Positif Menghindari Tamak
·         Terpuji dalam pandangan manusia dan Allah
·         Di sukai pergaulan sesama
·         Memperoleh ketentraman hidup
·         Selamat dari ancama siksa api neraka
·         Mendapat pahala dari Allah

wara' adalah salah satu sifat mulia hamba Allah yang saleh, untuk tidak terlalu terikat dengan keperluan dunia, menerima dengan ikhlas apa yang ada di tangannya, dan besyukur atas semua yang sudah dimilikinya, serta tidak merasa iri dengan apa yang menjadi milik orang lain. Sifat wara', mampu menghancurkan keinginan yang berlebih-lebihan, sebab keinginan yang berlebih-lebihan akan menimbulkan rasa iri serta rasa dengki. Sifat iri dan dengki adalah sifat iblis yang akan melahirkan api yang bisa menghanguskan kesucian jiwa dan raga manusia. 

Sifat wara', menimbulkan sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangannya. Sifat qana'ah akan menumbuhkan sikap sederhana yang sangat diperlukan oleh jiwa yang selalu ragu dan bimbang. Sifat qana'ah akan melahirkan pula sifat teguh mempertahankan istiqamah (keteguhan jiwa dalam menjalankan prinsip agama yang berkaitan dengan adab terhadap Allah dan akhlak terhadap sesama manusia. Sifat wara' yang dinampakkan dalam dalam kehidupi umat akan menumbuhkan sifat menghindari perbuatan syubhat, dan mengeluarkan manusia dari kesulitan yang sedang merambah syaraf pikiran, serta memberi kemampuan untuk memecahkan persoalan sulit. Akibat khusus dari sifat wara' dalam diri orang beriman aadalah ketenangan dirinya menghadapi persoalan hidup. 

Tingkat wara' yang tertinggi adalah harapan seorang hamba dalam seluruh bentuk kehidupan hanya diperoleh dari Allah swt belaka. Tidak ada hubungannya dengan manusia. Ia melihat semua yang ia terima ia beri, ia tolak semata-mata atas izin dan anugerah Allah belaka. 

Yahya bin Mu'az berkata: "Wara' mempunyai dua wajah. Yaitu wara’ lahiriah, tidak mengharap kecuali dari Allah, dan wara' batiniah, ia tidak memasukkan masalah duniawi yang dilihat, kecuali hanya Allah.” 

Manusia muslim yang bersifat wara' tidak berarti dalam masalah duniawi ia menolak kehadiran benda-benda duniawi, sama sekali tidak. Mereka tetap memperhatikan masalah keduniawian dan kelengkapan ucapnya, akan tetapi tidak menempatkan barang-barang duniawi itu ke dalam hati. Tidak membiarkan benda dunia itu menguasai hati dan jiwa mereka apalagi membelenggu jiwa. Benda dunia bagi orang arif yang saleh lagi bermakrifat bukanlah kepentingan yang harus dikejar dan diunggulkan. 

Benda duniawi itu bukan satu-satunya kelengkapan hidup manusia Sehingga tanpa itu semua tidak sempurnalah hidup insan ini. Benda dunia ini menurut orang beriman hanyalah penunjang kebutuhan manusia. Manusia boleh memiliki harta, tetapi harta itu tidak diletakkan dalam hati, karena harta adalah benda lahiriah yang letaknya di luar hati dan jiwa kita. Jangan sampai harta benda duniawi itu melekat dalam hati kita, karena kelak akan mempengaruhi jiwa dan kestabilan hidup manusia. 

Memang Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia itu suka dan cinta kepada harta benda dan nafsu syahwat, tetapi tidak berarti benda-benda itu akan menguasai manusia dan mendominasi pikiran dan jiwa hamba Allah. Sebab, apabila harta benda dunia itu telah menguasai manusia dan pikirannya, tentu akan mempengaruhi jiwa, dan selanjutnya menghambat hubungan ibadah insan dan Al Khalik, dan akan menjadi penghambat taqarrub insan dengan Allah swt. Harta benda tidak lain nvalali sebagai penunjang hamba dalam melengkapi hidupnya dalam ibadahnya dengan Allah swt 

Setiap orang telah diberi rezeki oleh Allah swt menurut ketentuan dari- Nya sendiri. Hanya dalam hal ini terdapat perbedaan dari masing- masing hamba. Mereka semua memperoleh rezekinya dan menikmati rezeki itu, mengelola dan memakannya. Hanya dalam menikmati rezeki Allah itu berbeda satu dengan lainnya. Ada yang makan dengan menunggu belas kasih atau iba orang lain, ada yang menikmati rezekinya dengan kerja keras, ada yang menikmati dengan menunggu datangnya pembeli, ada yang menikmatinya dengan menanti pembayaran gaji, dan ada yang menikmatinya dengan kemuliaan, yang merasa langsung menerima rezeki sebagai anugerah tak terduga dari Allah, seperti para Sufi. 

F.Akibat Buruk Cinta Dunia dan Lupa Akhirat
Orang yang serakah dan tamak itu sangat berbahaya,diantara bahayanya yaitu akan di paparkan oleh Guspur berbagi diantaranya yaitu:
1.Orang yang tamak tidak pernah merasa cukup dan tidak mau bersyukur
2.Sifat tamak dapat menyebabkan penyakit hati lainnya seperti rasa dengki,hasud dan fitnah.
3.Sifat tamak menyebabkan orang mengahalalkan segala cara dalam meraih tujuannya.
4.Sifat tamak tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.
5.Sifat tamak menyebabkan orang menjadi kikir ,sebab ia khawatir kalau hartanya akan habis.
6. Menghabiskan waktunya setiap hari guna memupuk kekayaan sehingga lupa menjaga kesehatan diri
7. Relatif kurang bergaul dengan masyarakat lingkungan sekitarnya
8. Kurang disukai dalam pergaulan, terutama oleh orang-orang yang kurang mampu
9. Tercela dalam pandangan ALLAH swt. Dan sesama manusia
10.Terancam siksa neraka karena mengabaikan tuntunan agama.
G. Wujud Menghindari Sifat Tamak
1.Selalu mensyukuri nikmat Allah bagaimanapun kondisinya
2.Menerapkan sifat ikhlas dan rendah diri dalam kehidupan sehari-hari
3.Menerapkan pola hidup sederhana , hemat,qona’ah,dan zuhud.
4.Menerapkan sikap pemurah dan jujur dalam kehidupan sehari-hari
5.Berdo’a kepada Allah supaya dihindarkan dari sifat serakah
6.Menjauhkan dari sifat iri jika melihat orang lain mendapat nikmat.
7.Menyadari bahwasanya harta kekayaan hanya sekedar sarana menuju alam yang hakiki yaitu alam akhirat.

H.    Hal hal lain yang berhubungan dengan tamak
Sifat yang berhubungan dengan tamak adalah bakhil
. Menurut imam Gazali, bakhil adalah sikap yang enggan mendermawankan sebagian harta yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Jika sifat bakhil berkembang, maka akan menjadi Tamak

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJNEw7TafPDMb4fOvyMluN_C4wfOKsnBDfCvzZ-LRxrQjWCnlTLhq4yhXi3PajEwT4azxFEUh_iX249CMhteWPok_G2JqQfVzA_oL8yFtb_-xCeYgN4S96JU7waZaMud8h_kXjXWnvnr4J/s400/roll-royce.jpg








Sifat yang bertentangan dengan tamak adalah wara’
. wara' adalah salah satu sifat mulia hamba Allah yang saleh, untuk tidak terlalu terikat dengan keperluan dunia, menerima dengan ikhlas apa yang ada di tangannya, dan besyukur atas semua yang sudah dimilikinya, serta tidak merasa iri dengan apa yang menjadi milik orang lain. Sifat wara', mampu menghancurkan keinginan yang berlebih-lebihan, sebab keinginan yang berlebih-lebihan akan menimbulkan rasa iri serta rasa dengki. Sifat iri dan dengki adalah sifat iblis yang akan melahirkan api yang bisa menghanguskan kesucian jiwa dan raga manusia. 

Sifat wara', menimbulkan sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangannya. Sifat qana'ah akan menumbuhkan sikap sederhana yang sangat diperlukan oleh jiwa yang selalu ragu dan bimbang. Sifat qana'ah akan melahirkan pula sifat teguh mempertahankan istiqamah (keteguhan jiwa dalam menjalankan prinsip agama yang berkaitan dengan adab terhadap Allah dan akhlak terhadap sesama manusia. Sifat wara' yang dinampakkan dalam dalam kehidupi umat akan menumbuhkan sifat menghindari perbuatan syubhat, dan mengeluarkan manusia dari kesulitan yang sedang merambah syaraf pikiran, serta memberi kemampuan untuk memecahkan persoalan sulit. Akibat khusus dari sifat wara' dalam diri orang beriman aadalah ketenangan dirinya menghadapi persoalan hidup. 

Tingkat wara' yang tertinggi adalah harapan seorang hamba dalam seluruh bentuk kehidupan hanya diperoleh dari Allah swt belaka. Tidak ada hubungannya dengan manusia. Ia melihat semua yang ia terima ia beri, ia tolak semata-mata atas izin dan anugerah Allah belaka. 

Yahya bin Mu'az berkata: "Wara' mempunyai dua wajah. Yaitu wara’ lahiriah, tidak mengharap kecuali dari Allah, dan wara' batiniah, ia tidak memasukkan masalah duniawi yang dilihat, kecuali hanya Allah.” 

Manusia muslim yang bersifat wara' tidak berarti dalam masalah duniawi ia menolak kehadiran benda-benda duniawi, sama sekali tidak. Mereka tetap memperhatikan masalah keduniawian dan kelengkapan ucapnya, akan tetapi tidak menempatkan barang-barang duniawi itu ke dalam hati. Tidak membiarkan benda dunia itu menguasai hati dan jiwa mereka apalagi membelenggu jiwa. Benda dunia bagi orang arif yang saleh lagi bermakrifat bukanlah kepentingan yang harus dikejar dan diunggulkan. 

Benda duniawi itu bukan satu-satunya kelengkapan hidup manusia Sehingga tanpa itu semua tidak sempurnalah hidup insan ini. Benda dunia ini menurut orang beriman hanyalah penunjang kebutuhan manusia. Manusia boleh memiliki harta, tetapi harta itu tidak diletakkan dalam hati, karena harta adalah benda lahiriah yang letaknya di luar hati dan jiwa kita. Jangan sampai harta benda duniawi itu melekat dalam hati kita, karena kelak akan mempengaruhi jiwa dan kestabilan hidup manusia. 

Memang Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia itu suka dan cinta kepada harta benda dan nafsu syahwat, tetapi tidak berarti benda-benda itu akan menguasai manusia dan mendominasi pikiran dan jiwa hamba Allah. Sebab, apabila harta benda dunia itu telah menguasai manusia dan pikirannya, tentu akan mempengaruhi jiwa, dan selanjutnya menghambat hubungan ibadah insan dan Al Khalik, dan akan menjadi penghambat taqarrub insan dengan Allah swt. Harta benda tidak lain nvalali sebagai penunjang hamba dalam melengkapi hidupnya dalam ibadahnya dengan Allah swt 

Setiap orang telah diberi rezeki oleh Allah swt menurut ketentuan dari- Nya sendiri. Hanya dalam hal ini terdapat perbedaan dari masing- masing hamba. Mereka semua memperoleh rezekinya dan menikmati rezeki itu, mengelola dan memakannya. Hanya dalam menikmati rezeki Allah itu berbeda satu dengan lainnya. Ada yang makan dengan menunggu belas kasih atau iba orang lain, ada yang menikmati rezekinya dengan kerja keras, ada yang menikmati dengan menunggu datangnya pembeli, ada yang menikmatinya dengan menanti pembayaran gaji, dan ada yang menikmatinya dengan kemuliaan, yang merasa langsung menerima rezeki sebagai anugerah tak terduga dari Allah, seperti para Sufi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALAT PERNAPASAN MANUSIA

A.       Pengertian pernapasan Pernapasan atau respirasi adalah pertukaran gas antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungannya. Se...