BAB VI. CINTA DUNIA & LUPA AKHIRAT
BAB VI
Allah swt. Menciptakan manusia dalam keadaan yang
berbeda – beda. Ada yang ditakdirkan menjadi orang kaya dan ada juga yang
ditakdirkan menjadi orang miskin, ada yang dalam keadaan bencana, ada yang
dalam keadaan aman. Itu baiknya kita harus melakukan sesuatu kebaikan sebelum
kembali ke kehidupan hakiki nanti.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin ( rahmat
bagi seluruh alam ). Islam mendidik umatnya untuk memiliki akhlak karimah (
perilaku terpuji ) dan menjauhi akhlak mazmumah ( perilaku tercela ). Salah
satu perilaku tercela yang harus dijauhi ialah tamak terhadap harta. Sifat
tamak terhadap harta sudah ada sejak adanya manusia. Banyak contoh yang dapat
kita baca, seperti Qarun dan Sa’labah.
Memang
islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja mencari nafkah, tetapi dengan cara
baik dan halal. Dengan bekerja, manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
berupa sandang, pangan dan papan. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, harta
benda juga harus dimanfaatkan untuk bertujuan beribadah kepada ALLAH swt.
Bukannya malah menjadi tamak.
Zaman
sekarang, tampaknya berkembang kehidupan yang bersifat konsumtif. Hal ini
mendorong timbulnya sifat hidup cinta dunia jika tidak disadari dengan keimanan
yang kuat. ALLAH swt. Telah banyak mengingatkan kepada kita tentang bahaya
orang yang memiliki sifat cinta dunia dan lupa terhadap akhirat.
Kiranya
tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia mencintai dunia ini, baik yang
berupa kekayaan harta, kedudukan maupun lawan jenisnya. Islam tidak melarang manusia
mencintai dunia, karena memang dunia ini diciptakan ALLAH swt. Untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia. Sungguhpun demikian, manusia tidak diberi kebebasan
dalam mencintai dunia.
Hampir semua
manusia di dunia ini mencintai banyak harta. Di antara wujud harta adalah uang.
Islam tidak melarang umatnya memiliki banyak harta selama harta tersebut
diperoleh dengan cara yang baik. Selain itu,apabila harta yang dimiliki telah
mencapai nisab, wajiblah bagi pemiliknya untuk mengeluarkan zakat sekali dalam
setahun. Dengan mengeluarkan zakat, berarti membersihkan diri dari sifat kikir
dan membersihkan harta dari hak orang lain.
Islam memberi batasan-batasan yang wajib ditaati
demi kebaikan bagi manusia itu sendiri. Apabila manusia mengabaikan
batasan-batasan tersebut, maka bahaya telah mengancam bagi diri manusia itu
sendiri.
Tahukah
kalian batasan apa yang dimaksud ? Maksudnya, bahwa manusia boleh mencintai
dunia, namun jangan sampai melupakan kehidupan diakhirat nanti bagaimana. Kemudian
kapankah hidup yang hakiki itu ? Hidup yang hakiki adalah hidup di akhirat,
yaitu hidup kedua sesudah mati.
Mari kita mengkaji penjelasan lebih lanjut pada bab
ini.
A.
CINTA DUNIA & LUPA AKHIRAT

1.
Pengertian Cinta Dunia & Lupa
Akhirat
Cinta dunia pada umumnya
bermakna negatif dan merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.
Cinta dunia bermakna haus jabatan, ambisi dengan kekayaan dan sejenisnya.
Di
sisi lain, dunia telah menemani keseharian setiap orang. Fasilitas seperti
rumah, makanan, kendaraan, praktis telah menjadi pendamping hidupnya.
Hari-harinya untuk mengais rezeki, untuk mendapatkan sarana dan fasilitas
hidupnya.
Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Kalau begitu,
bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian.
Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian.
Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana
ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba
sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka
hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi
ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)
Cinta terhadap dunia berarti
berlebihan dalam mencintai kehidupan di dunia dan melupakan kehidupan di
akhirat nanti. Orang yang demikian berarti memiliki sifat tamak atau rakus
2.
Dampak Negatif memiliki SIFAT Cinta Dunia & Lupa Akhirat
Pertama : Mencintai dunia berarti
mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh. Termasuk dosa yang
paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa
Jalla.
Kedua : Allâh mengutuk, memurkai, dan
membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa yang mencintai
apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan berhadapan dengan
kutukan, murka, dan kebencian-Nya.
Ketiga : Mencintai dunia berarti
menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allâh yang
seharusnya menjadi sarana menuju Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat berubah
arah menjadi mengejar kepentingan dunia. Di sini ada dua persoalan: (1)
menjadikan wasilah (sarana) sebagai tujuan, (2) menjadikan amal akhirat sebagai
alat untuk menggapai dunia.
Ini merupakan keburukan dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴿١٥﴾أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]
Ini merupakan keburukan dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴿١٥﴾أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]
Keempat : Mencintai dunia membuat
manusia tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat,
akibat dari kesibukannya dengan dunia dan kesukaannya.
Kelima : Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
Kelima : Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.
Keenam : Pecinta dunia adalah orang yang
paling banyak tersiksa. Ia tersiksa dalam tiga keadaan. Ia tersiksa di dunia
saat bekerja keras untuk mendapatkannya, dan berebut dengan sesama pecinta
dunia. Dia tersiksa di alam barzakh (kubur) dan tersiksa pada hari Kiamat.
Ketujuh : Penggila harta dan pecinta
dunia yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling
bodoh. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih
mengutamakan mimpi daripada kenyataan, lebih mengutamakan bayang-bayang yang
segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang
segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi nan nyaman dengan kehidupan yang
tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang akan sirna dalam waktu
singkat. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan hal-hal
semacam itu.
B. SIFAT TAMAK
1. Pengertian Tamak
مَابَسَقَ اَغْصَانُ ذُلٍّ اِلاَّ عَلَى بِذْرٍ
طَمَعٍ
Artinya :
“Tidaklah
akan berkembang biak cabang-cabang kehinaan itu, hanyalah di atas biji ketamakan."
Tamak
berasal dari bahasa arab Tamak berasal dari Bahasa Arab طمع-يطمع-طمعا yang berarti loba ,rakus , terlampau besar keinginan
untuk memperoleh harta yang banyak. Secara bahasa tamak
berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar
Menurut
bahasa SERAKAH sering disebut dengan TAMAK yang artinya tidak pernah
merasa puas dengan hasil yang sudah didapatkan. Menurut istilah Tamak yaitu
cinta kepada dunia(hubbud dunya) berupa harta benda terlalu berlebihan tanpa
memperdulikan hukum haram yang menyebabkan adanya dosa besar. Pelakunya tidak
pernah merasa puas ,segala cara pun dianggap halal. Serakah adalah salah satu
dari penyakit hati yang sangat membahayakan . orang yang serakah senantiasa
menginginkan sesuatu lebih banyak ,tidak peduli bagaimana cara untuk
menempuhnya yang terpenting tujuannya tercapai meskipun harus melanggar
syari’at. Ia tidak memikirkan apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain
atau tidak. Tujuan utama bagi dirinya adalah kebutuhan nafsu syahwatnya
terpenuhi.sifat serakah itu termasuk dari sifat syirik. Sikap serakah dan tamak
itu dilarang oleh Allah Swt.
Tamak juga adalah sikap rakus terhadap
hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan
haram. Sifat ini dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Rifai sebagai
sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar
lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada
Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama.
Tamak termasuk salah satu penyakit hati yang tidak
istiqamah kepada anugerah Allah. Jiwanya gelisah, hendak begini hendak begitu.
Terhuyung ke kiri dan ke kanan, seperti pohon yang dihembus angin. Tamak adalah
sifat manusia yang ingin memborong segalanya dan mengumpulkan semuanya. Tidak
ada yang ia sukai, semuanya ia suka tanpa mau mengetahui apa gunanya. Milik
yang ada di tangan orang pun disukainya, untuk itu ia akan berusaha
memperolehnya. Sifat tamak itu juga menghilangkan rasa malu.
Tamak adalah sifat yang merusak amal, dan kebaikan
diri yang sangat tidak sesuai dengan hidup orang beriman. Ketamakan yang
merusak amal itu akan berakibat dengan kehinaan. Karena pada hakikatnya tamak
adalah tanda kelemahan iman seseorang. Iman itu adalah wujud dari kemuliaan
pribadi manusia, dan kemuliaan itu adalah sifat orang beriman.
2. Sifat-Sifat Tamak
Sifat rakus
terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh
beliau seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia
meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya
harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam
mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru
yang lebih banyak. Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan
dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan
dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat
menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu
bebanan hidup.
Selanjutnya,
kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya,
karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka
tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu
tamaknya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk
melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba-Nya. Seperti dalam firman-Nya:
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْن
Artinya :
“ Dan ِAku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Tamak timbul
dari waham iaitu ragu-ragu dengan rezeki yang dijamin oleh
Allah SWT. Karena itu Ibnu Athaillahmelanjutkan: “Tak ada
yang lebih mendorong kepada Tamak melainkan imajinasi (waham) itu
sendiri”, Dorongan imajinatif, dan lamunan-lamunan panjang yang palsu
senantiasa menjuruskan kita pada ketamakan dan segala bentuk keinginan yang ada
kaitannya dengan kekuatan, kekuasaan, dan fasilitas makhluk. Waham atau
imajinasi itulah yang memproduksi hijab-hijab penghalang antara kita dengan
Allah SWT, Sehingga pencerahan cahaya yakin sirna ditutup oleh hal-hal yang
imajiner belaka.
Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan pula wahm, artinya
angan-angan. Adapun wahm ini suka memaksa jiwa seseorang agar mengikuti kemauan
dan angan-angan yang ada di benak dan perasaannya.
Sesungguhnya angan-angan itulah yang menjadi pemicu
lahirnya sifat tamak dalam jiwa manusia. Angan-angan (wahm) termasuk menghayal
atau lamunan yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi si pelamun. Kadang-
kadang lamunan yang ada dalam pikiran yang abstrak itu melambung sangat tinggi,
sehingga si pelamun berada di atas awang-awang yang menggambarkan suatu yang
luar biasa yang sedang dialaminya, padahal sesungguhnya ia berada di atas bumi
alam realita.
Wahm itu merusak pikiran dan mengundang kehendak yang
berupa sifat rakus, perbuatan maksiat, mengambil milik orang, dan perbuatan
yang mengundang kejahatan dan maksiat lainnya. Selain itu wahm merusak jiwa dan
akhlak. Karena wahm akan membuat rekayasa negatif seakan-akan sudah positif.
Semuanya berjalan di luar kemampuan yang dimiliki oleh si pelamun.
Si penghayal tidak mau mengerti bahwa sebenarnya tidak
mungkin lamunannya terwujud, sebab selain di luar kemampuan dirinya, juga tidak
sesuai dengan kehendak Allah yang sudah ditakdirkan. Wahm itu bukan ikhtiar,
akan tetapi semata-mata lamunan yang tentu saja tanpa rencana dan ikhtiar.
Itulah sebab ketamakan dan kerakusan cepat lalui dari sifat tersebut.
Hanya orang yang beriman kepada qada dan qadar Allah
yang percaya bahwa hidup manusia ini berada dalam kendali Allah swt. Allah swt
telah menetapkan sebelum semua perjalanan hidup manusia Keinginan seperti ini
akan melepaskan manusia dari sifat tamak atau rakus, sehingga manusia terlepas
pula dari perbuatan yang hina. Sebali pada dasarnya sifat tamak itu akan mudah
menjadikan manusia sebagai budak karena lamunan yang tak putus-putus.
3. Ciri-Ciri Orang Tamak
°
Tidak
mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya
°
Senantiasa
merasa tidak cukup padahal ia telah banyak mendapatkan nikmat
°
Dia
ingin mempunyai sesuatu yang dipunyai orang lain
°
Suka
menghayal yang tidak realistis ( tuulul amal)
°
Tidak
menghargai pemberian orang lain apabila tidak sesuai dengan keinginannya
°
Sangat
semangat mengumpulkan harta tanpa memperdulikan waktu dan kondisi tubuh.
°
Semua
kegiatannya selalu berorientasi pada materi
°
Terlalu mencintai harta yang dimiliki
°
Terlalu semangat mencari harta tanpa
memperhatikan waktu dan kondisi tubuh
°
Terlalu hemat dalam membelanjakan harta
°
Merasa berat untuk mengeluarkan harta demi
kepentingan agama dan sosial
°
Mendambakan kemewahan dunia
°
Tidak memikirkan kehidupan akhirat
°
Semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi.
°
Tidak
pernah puas dengan kekayaan yang dimiliki.
°
Selalu
menghitung untung rugi dengan materi, tidak mau melakukan sesuatu kalau tidak
menguntungkan.
°
Hidupnya
selalu terbelenggu untuk mencari keduniaan.
°
Tidak
mau mengeluarkan uang jika tidak memberi keuntungan.
°
Tidak
berpikir bahwa sebagian hartanya adalah milik fakir dan miskin.
4. Hukumnya Di Dalam Ajaran Islam
Hukumnya ialah haram , Allah SWT memberi
ancaman keras kepada mereka yang tamak, dijelaskan dalam surah Al-‘Aadiyat ayat
6-11:
يَوْمَ لاَ
يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ (88) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ
سَلِيْمٍإِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُوْدٌ (6) وَإِنَّهُ عَلىَ ذَالِكَ
لَشَهِيْدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ (8)
أَفَلاَ
يَعْلَمُ إِذَابُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِ
(10)
إِنَّ
رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيْرٌ (11)
Artinya :
6.
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. Dan
sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
9. Maka
apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. Dan
dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11.
Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
Dalam surah
al-Fajr ayat 16-23, Allah berfirman:
وَأَمَّا
إِذَا مَاابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّيْ أَهَانَنِ
(16)
كَلاَّ بَلْ
لاَّ تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ (17) وَلاَ تَحَاضُّوْنَ عَلَى طَعَامِ
الْمِسْكِيْنَ (18)
وَتَأْكُلُوْنَ
التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمًّا (19) وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)
كَلاَّ إِذَا
دُكَّتِ اْلاَرْضُ دَكًّا دَكًّا (21) وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّاصَفًّا
(22)
وَجِاىْ ءَ
يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَّتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ
الذِّكْرَى (23)
Artinya:
16. Adapun
bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhankumenghinakanku”[5].
18. Dan kamu
tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
19. Dan kamu
memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang
bathil),
20. Dan kamu
mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
21. Jangan
(berbuat demikian). apabila bumi digoncangkan berturut-turut,
23. Dan pada
hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia,
akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.
5.
Contoh orang yang tamak

Orang-orang
yang tamak adalah orang-orang yang hartanya masuk ke hati, melingkupinya dalam
hitungan rugi-laba. Ketika dia berpikir bahwa hartanya dapat mengekalkannya di
kehidupan ini maka mulailah dia krasak-krusuk mengumpulkan harta dengan segala
cara tanpa memperhatikan batasan halal-haram. Dan ketika kewajiban datang
kepadanya untuk berzakat atau bersedekah, menginfakkan sebagian hartanya, ia
mulai mengambil sikap preventif terhadap harta tersebut, jangan sampai harta
saya berkurang bahkan sepeserpun! Kalau pun kemudian dia mengeluarkan sebagian
kecil dari hartanya juga, yang terpikir kemudian adalah seberapa besar yang
akan diperolehnya kembali. Inilah awal mula praktek suap, sogok-menyogok. Ia mengeluarkan
untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Inilah orang-orang kaya yang ketika
berpakaian menutupi hatinya, bukan menutupi auratnya. Makanya ketika berpakaian
auratnya berkibar dan pakaiannya hanyalah untuk mempertegas
kesombongannya
6. Larangan Bersifat Tamak:
Larangan
bersifat tamak di jelaskan di dalam Al-Qur’an surat:
v Al Hadid
Ayat 20
أِعْلَمُوْا
أنَّمَا اْلْحَيَوةُاْلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌبَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌفِي الأَمْوَالِوَالأَوْلدِۖ كَمَثَلِ غَيْث
أَعْجَبَ
اْلْكُفَّارَنَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَهُ مُصْفَرًا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَمًاۖ
وَفِى اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةُ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَنٌۚ وَمَا
اْحَيَوةَ الْدُّنْيَا اِلاَّ مَتَعُالْغُرُوْرِ۞
(ال حاديد/20:57)
(ال حاديد/20:57)
Artinya:
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupandunia itu hanyalah permainan dan senda
gurauan,perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam
kekayaan dan anak keturunan,seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan
para petani,kemudi(tanaman)itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian hancur.Dan akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah
serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenangan yang
palsu(Q.S.al-Hadid/57:20)
Menurut ayat diatas, sifat – sifat
kehidupan dunia ada empat macam, yaitu :
a. Permainan
yang didambakan manusia
b. Senda
gurauan yang membuat manusia lupa pada kebahagiaan hakiki
c. Perhiasan
yang dibanggakan manusia
d. Tempat
berlomab mencari kekayaan dan membanggakan keturunan
C. Memahami
Kandungan Surah al-Humazah dan at-Takasur tentang Cinta Dunia dan Lupa Akhirat
1. Al Humazah
Ayat 1-9
وَيْلٌ
لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ۞ لَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ۞ يَحْسَبُ أَنَّ
مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ۞ كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِى لْحُطَمَةِ۞ وَمَآ أَدْرَٮٰكَ
مَا لْحُطَمَةُ۞ نَارُ للَّهِ لْمُوقَدَةُ۞ لَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى لْأَفْـِٔدَةِ۞
إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ۞ فِى عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍۭ۞
Artinya:
1. kecelakaanlah
bagi Setiap pengumpat lagi pencela
2. yang
mengumpulkan harta dan menghitung-hitung
3. Dia
mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya
4. sekali-kali
tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah
5. dan
tahukah kamu apa Huthamah itu?
6. (yaitu)
api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan
7. yang
(membakar) sampai ke hati
8. Sesungguhnya
api itu ditutup rapat atas mereka
9. (sedang
mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang
a. Pengertian surah al - humazah
Surat ini merupakan surat
yang ke-32 yang diterima Rasulullahdan surat yang ke 104
berdasarkan urutan Mushaf al-Qur’an. Terdiri dari 9 ayat. Surat ini
termasuk surat Makkiyah.
Nama surat dinamakan al-Humazah, artinya orang yang mengumpat dan
mencela orang. Dinamakan juga al-Lumazah artinya orang yang mencaci dan
suka menyebut keaiban orang. Atau surat al-Hutamah artinya
neraka al-Hutamah.
b.
Pokok-Pokok isi Surah Al-Humazah
Dalam Surah Al-Humazah tersebut mengandung beberapa
makna yang tertuju kepada orang-orang yang mengingkari perintah tuhan, yaitu
bahwa Allah mengancam orang-orang yang suka mencela orang lain, suka mengumpat
dan suka mengumpulkan harta namun tidak menafkahkannya di jalan Allah.
c.
Penutup Surah Al-Humazah
Dalam Surah ini diterangkan bahwa orang-orang
yang suka mencela orang lain, suka memfitnah dan suka mengumpulkan harta benda
tetapi tidak pernah menafkannya di jalan Allah akan di Adzab (di
masukkankeneraka wail).
·
Penafsiran Surah Al-Humazah
Berikut akan di jelaskan secara detail tentang
tafsiran dari ayat-ayat dalam surah Al-Humazah sebagaimana di bawah yaitu:
1) Ayat yang pertama menjelaskan bahwa
pencelaakan celaka, di ayat tersebut terdapat kata “همزة”yaitu mencela
dari belakang atau secara tidak terang-terangan, dan juga terdapat kata“لمزة”yang
artiya hamper bahkan bisa dikatakan sama dengan yang pertama tadi Cuma bedanya
kata yang ini berarti mencela secara terang-terangan.
2) Di ayat yang kedua disebutkan
orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitungnya yaitu orang-orang yang
menjadikan harta tersebut simpanan untuk para pemuda yang akan datang yaitu
anak-anak mereka[2]. bahkan orang-orang itu mengumpulkan
untuk memperbanyak hartanya[3].
3) Ayat ketiga dijelaskan bahwa mereka
mereka mengira bahwa hartanya dapat megekalkan mereka di dunia dan tidak akan
pernah mati, bahan mereka menganggap bahwa apabila harta-harta mereka itu
berkurang maka merekaakan mati,tidak lain alas an itu muncul karena kekikiran
mereka.
4) Selanjutnya ayat yang ke empat
menjelaskan bantahan Allah terhadap orang-orang tersebut di atas bahwa Allah
akan membuang mereka kedalam Neraka Huthamah yaitu api yang membakar semua
orang yang terdapat di dalamnya, sebagian ulama berpendapat bahwa yang
dibakar/yang di masukkan ke dalamnya adalah orang itu dan harta-harta mereka[4].
5) Ayat keenam menjelaskan bahwa
Huthamah yaitu api yang tidak pernah padam kecuali atas kehendak Allah SWT.
v Asbabun Nuzul Surah Al-Humazah
Sebab-Sebab turunnya Surah Al-Humazah ini bermula atas
beberapa riwayat yang berupa hadits seperti yang telah diutarakan oleh Imam Ibn
Abu Hatim dan bersumber dari Sahabat Utsman Ibn Affan r.a dan Ibn Umar r.a
dimana keduanya telah menceritakan Bahwa “Kami terus menerus mendengar
bahwasannya Firman-Nya”_”Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela”.[5] Surah ini diturunkan berkenaan
dengan sikap ibn Ubay bin Khalaf.
Selain itu imam ibn Hatim juga telah mengetengahkan
hadits lainnya melalui As-Saddi yang telah menceritakan bahwasannya ayat diatas
diturunkan berkenaan dengan Al-Akhnas Ibn Syuraiq. Tidak hanya itu disisi lain
ibnJarir juga mengetengahkan sebuah hadits melalui seorang laki-laki dari
kalangan penduduk Al-Ruqqah yang telah menceritakan bahwa ayat ini diturunkan
berkenaaan dengan Jamil Ibn Amir Al-Jumahi. Bahkan Imam Ibn Mundzir telah
mengetengahkan sebuah hadits pula melalui Ibn Ishaq yang telah menccritakan
bahwa Umayyah Ibn Khalaf apa bila melihat Rasulullah SAW. Langsung mengumpat
dan mencela beliau, maka dari itu Allah SWT.Menurunkan Firman-Nya kepada beliau“Celakalah
bagi setiap pengumpat dan pencela”[6].
Jadi berdasarkan riwayat-riwayat di atas dapat diambil
benang merah bahwasannya Al-Humazah ini turun dikarenakan pada masa Rasulullah
SAW. terdapat beberapa sahabat yang suka mencela dan sekaligus mengumpat kepada
beliau.
2. Al Takasur
Ayat 1-8
أَلْهَاكُمُ
التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ
ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ
الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Artinya:
1. Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu
2. Sampai
kamu masuk ke dalam kubur
3. Janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)
4. Dan
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. Janganlah
begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin
6. Niscaya
kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim
7. Dan
sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin
8. Kemudian
kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu
megah-megahkan di dunia itu).
a. Pengertian Surah at - Takasur
Surah At-Takasur (bahasa
Arab:التكاثر) adalah surah ke-102 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk
golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah
Al-Kausar. Dinamai At-Takasur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At-Takasur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
b.
Asbabul Nuzul (Sebab Turunnya)
Ibnu Abu
Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah yang berkata, "Ayat ini turun
berkenaan dengan dua kabilah dari golongan Anshar, yaitu Bani Haritsah dan Bain
Harits yang saling membanggakan diri dan merasa lebih. "Apakah pada kalian
ada yang seperti si Fulan dan si Fulan?" Pihak yang satu lagi juga
melakukan hal serupa. Mereka saling membanggakan diri dalam hal orang-orang
yang masih hidup.
Selanjutnya,
mereka saling berkata, "Mari pergi ke pekuburan. Di sana, samil
menunjuk-nunjuk ke kuburan. Kedua pihak juga saling berkata, "Apakah pada
kalian ada yang sehebat si Fulan daan si Fulan?" Allah lalu menurunkan
ayat, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam
kubur."
Ibnu Jarir
meriwayatkan dari Ali yang berkata, "Sebelumnya, kami agak ragu terhadap keberadaan
azab kubur hingga turunlah ayat, "Bermegah-megahan telah melalaikan
kamu." sampai ayat 4, kemudian sekali-kali tidak. Kelak kamu akan
mengetahui yang berbicara tentang azab kubur.
c.
Penjelasan Ayat
Ayat 1 dan 2:
Memberikan
gambaran kepada orang-orang yang beriman bahwa kebanyakan manusia mendambakan
dan membanggakan kemewahan di dunia. Sifat ini akan terus ada hingga kematian
menghampiri mereka dan melupakan mereka pada tujuan hidup yang sebenarnya,
yaitu mengabdikan diri pada Allah swt.
Ayat 3-5:
Sebagai
bantahan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apapun dari sikap suka
membangga-banggakan kemewahan dunia maka mereka akan mengetahui balasan dari
perbuatan mereka itu.
Ayat 6-8:
Mereka akan
mendapat balasan, yaitu mereka akan menyaksikan neraka Jahim, mereka akan
merasakan siksaan di dalamnya, dan kemegahan yang dibangga-banggakan di dunia
tidak akan bisa menolongnya lagi.
D. Keterkaitan Al Humazah & At
Takasur
·
Menceritakan Bermegah – megahan atau membagakan
kemewahan di dunia
·
Menceritakan orang yang menganggap kemewahan dunia
bersifat kekal
·
Menceritakan Balasan Bagi orang yang terlalu mencintai
harta dan melupakan akhirat
E. Dampak Positif Menghindari Tamak
·
Terpuji dalam pandangan manusia dan Allah
·
Di sukai pergaulan sesama
·
Memperoleh ketentraman hidup
·
Selamat dari ancama siksa api neraka
·
Mendapat pahala dari Allah
wara' adalah
salah satu sifat mulia hamba Allah yang saleh, untuk tidak terlalu terikat
dengan keperluan dunia, menerima dengan ikhlas apa yang ada di tangannya, dan
besyukur atas semua yang sudah dimilikinya, serta tidak merasa iri dengan apa
yang menjadi milik orang lain. Sifat wara', mampu menghancurkan keinginan yang
berlebih-lebihan, sebab keinginan yang berlebih-lebihan akan menimbulkan rasa
iri serta rasa dengki. Sifat iri dan dengki adalah sifat iblis yang akan
melahirkan api yang bisa menghanguskan kesucian jiwa dan raga manusia.
Sifat wara',
menimbulkan sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangannya.
Sifat qana'ah akan menumbuhkan sikap sederhana yang sangat diperlukan oleh jiwa
yang selalu ragu dan bimbang. Sifat qana'ah akan melahirkan pula sifat teguh
mempertahankan istiqamah (keteguhan jiwa dalam menjalankan prinsip agama yang
berkaitan dengan adab terhadap Allah dan akhlak terhadap sesama manusia. Sifat
wara' yang dinampakkan dalam dalam kehidupi umat akan menumbuhkan sifat
menghindari perbuatan syubhat, dan mengeluarkan manusia dari kesulitan yang
sedang merambah syaraf pikiran, serta memberi kemampuan untuk memecahkan
persoalan sulit. Akibat khusus dari sifat wara' dalam diri orang beriman
aadalah ketenangan dirinya menghadapi persoalan hidup.
Tingkat
wara' yang tertinggi adalah harapan seorang hamba dalam seluruh bentuk
kehidupan hanya diperoleh dari Allah swt belaka. Tidak ada hubungannya dengan
manusia. Ia melihat semua yang ia terima ia beri, ia tolak semata-mata atas
izin dan anugerah Allah belaka.
Yahya bin
Mu'az berkata: "Wara' mempunyai dua wajah. Yaitu wara’ lahiriah, tidak
mengharap kecuali dari Allah, dan wara' batiniah, ia tidak memasukkan masalah
duniawi yang dilihat, kecuali hanya Allah.”
Manusia
muslim yang bersifat wara' tidak berarti dalam masalah duniawi ia menolak
kehadiran benda-benda duniawi, sama sekali tidak. Mereka tetap memperhatikan
masalah keduniawian dan kelengkapan ucapnya, akan tetapi tidak menempatkan
barang-barang duniawi itu ke dalam hati. Tidak membiarkan benda dunia itu
menguasai hati dan jiwa mereka apalagi membelenggu jiwa. Benda dunia bagi orang
arif yang saleh lagi bermakrifat bukanlah kepentingan yang harus dikejar dan
diunggulkan.
Benda
duniawi itu bukan satu-satunya kelengkapan hidup manusia Sehingga tanpa itu
semua tidak sempurnalah hidup insan ini. Benda dunia ini menurut orang beriman
hanyalah penunjang kebutuhan manusia. Manusia boleh memiliki harta, tetapi
harta itu tidak diletakkan dalam hati, karena harta adalah benda lahiriah yang
letaknya di luar hati dan jiwa kita. Jangan sampai harta benda duniawi itu
melekat dalam hati kita, karena kelak akan mempengaruhi jiwa dan kestabilan
hidup manusia.
Memang
Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia itu suka dan cinta kepada harta benda dan
nafsu syahwat, tetapi tidak berarti benda-benda itu akan menguasai manusia dan
mendominasi pikiran dan jiwa hamba Allah. Sebab, apabila harta benda dunia itu
telah menguasai manusia dan pikirannya, tentu akan mempengaruhi jiwa, dan
selanjutnya menghambat hubungan ibadah insan dan Al Khalik, dan akan menjadi
penghambat taqarrub insan dengan Allah swt. Harta benda tidak lain nvalali
sebagai penunjang hamba dalam melengkapi hidupnya dalam ibadahnya dengan Allah
swt
Setiap orang
telah diberi rezeki oleh Allah swt menurut ketentuan dari- Nya sendiri. Hanya
dalam hal ini terdapat perbedaan dari masing- masing hamba. Mereka semua
memperoleh rezekinya dan menikmati rezeki itu, mengelola dan memakannya. Hanya
dalam menikmati rezeki Allah itu berbeda satu dengan lainnya. Ada yang makan
dengan menunggu belas kasih atau iba orang lain, ada yang menikmati rezekinya
dengan kerja keras, ada yang menikmati dengan menunggu datangnya pembeli, ada
yang menikmatinya dengan menanti pembayaran gaji, dan ada yang menikmatinya
dengan kemuliaan, yang merasa langsung menerima rezeki sebagai anugerah tak
terduga dari Allah, seperti para Sufi.
F.Akibat Buruk Cinta Dunia dan Lupa Akhirat
Orang yang serakah dan tamak itu sangat berbahaya,diantara bahayanya yaitu akan di paparkan oleh Guspur berbagi diantaranya yaitu:
1.Orang yang tamak tidak pernah merasa cukup dan tidak mau bersyukur
2.Sifat tamak dapat menyebabkan penyakit hati lainnya seperti rasa dengki,hasud dan fitnah.
3.Sifat tamak menyebabkan orang mengahalalkan segala cara dalam meraih tujuannya.
4.Sifat tamak tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.
5.Sifat tamak menyebabkan orang menjadi kikir ,sebab ia khawatir kalau hartanya akan habis.
Orang yang serakah dan tamak itu sangat berbahaya,diantara bahayanya yaitu akan di paparkan oleh Guspur berbagi diantaranya yaitu:
1.Orang yang tamak tidak pernah merasa cukup dan tidak mau bersyukur
2.Sifat tamak dapat menyebabkan penyakit hati lainnya seperti rasa dengki,hasud dan fitnah.
3.Sifat tamak menyebabkan orang mengahalalkan segala cara dalam meraih tujuannya.
4.Sifat tamak tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.
5.Sifat tamak menyebabkan orang menjadi kikir ,sebab ia khawatir kalau hartanya akan habis.
6. Menghabiskan waktunya setiap hari guna
memupuk kekayaan sehingga lupa menjaga kesehatan diri
7. Relatif kurang bergaul dengan masyarakat
lingkungan sekitarnya
8. Kurang disukai dalam pergaulan, terutama
oleh orang-orang yang kurang mampu
9. Tercela dalam pandangan ALLAH swt. Dan
sesama manusia
10.Terancam siksa neraka karena mengabaikan
tuntunan agama.
G. Wujud Menghindari Sifat Tamak
1.Selalu mensyukuri nikmat Allah bagaimanapun kondisinya
2.Menerapkan sifat ikhlas dan rendah diri dalam kehidupan sehari-hari
3.Menerapkan pola hidup sederhana , hemat,qona’ah,dan zuhud.
4.Menerapkan sikap pemurah dan jujur dalam kehidupan sehari-hari
5.Berdo’a kepada Allah supaya dihindarkan dari sifat serakah
6.Menjauhkan dari sifat iri jika melihat orang lain mendapat nikmat.
7.Menyadari bahwasanya harta kekayaan hanya sekedar sarana menuju alam yang hakiki yaitu alam akhirat.
1.Selalu mensyukuri nikmat Allah bagaimanapun kondisinya
2.Menerapkan sifat ikhlas dan rendah diri dalam kehidupan sehari-hari
3.Menerapkan pola hidup sederhana , hemat,qona’ah,dan zuhud.
4.Menerapkan sikap pemurah dan jujur dalam kehidupan sehari-hari
5.Berdo’a kepada Allah supaya dihindarkan dari sifat serakah
6.Menjauhkan dari sifat iri jika melihat orang lain mendapat nikmat.
7.Menyadari bahwasanya harta kekayaan hanya sekedar sarana menuju alam yang hakiki yaitu alam akhirat.
H.
Hal hal lain yang berhubungan dengan tamak
Sifat yang
berhubungan dengan tamak adalah bakhil
. Menurut
imam Gazali, bakhil adalah sikap yang enggan mendermawankan sebagian harta yang
dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Jika sifat bakhil berkembang, maka akan menjadi
Tamak
Sifat yang
bertentangan dengan tamak adalah wara’
. wara'
adalah salah satu sifat mulia hamba Allah yang saleh, untuk tidak terlalu
terikat dengan keperluan dunia, menerima dengan ikhlas apa yang ada di
tangannya, dan besyukur atas semua yang sudah dimilikinya, serta tidak merasa
iri dengan apa yang menjadi milik orang lain. Sifat wara', mampu menghancurkan
keinginan yang berlebih-lebihan, sebab keinginan yang berlebih-lebihan akan
menimbulkan rasa iri serta rasa dengki. Sifat iri dan dengki adalah sifat iblis
yang akan melahirkan api yang bisa menghanguskan kesucian jiwa dan raga
manusia.
Sifat wara',
menimbulkan sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangannya.
Sifat qana'ah akan menumbuhkan sikap sederhana yang sangat diperlukan oleh jiwa
yang selalu ragu dan bimbang. Sifat qana'ah akan melahirkan pula sifat teguh
mempertahankan istiqamah (keteguhan jiwa dalam menjalankan prinsip agama yang
berkaitan dengan adab terhadap Allah dan akhlak terhadap sesama manusia. Sifat
wara' yang dinampakkan dalam dalam kehidupi umat akan menumbuhkan sifat
menghindari perbuatan syubhat, dan mengeluarkan manusia dari kesulitan yang
sedang merambah syaraf pikiran, serta memberi kemampuan untuk memecahkan
persoalan sulit. Akibat khusus dari sifat wara' dalam diri orang beriman
aadalah ketenangan dirinya menghadapi persoalan hidup.
Tingkat
wara' yang tertinggi adalah harapan seorang hamba dalam seluruh bentuk
kehidupan hanya diperoleh dari Allah swt belaka. Tidak ada hubungannya dengan
manusia. Ia melihat semua yang ia terima ia beri, ia tolak semata-mata atas
izin dan anugerah Allah belaka.
Yahya bin
Mu'az berkata: "Wara' mempunyai dua wajah. Yaitu wara’ lahiriah, tidak
mengharap kecuali dari Allah, dan wara' batiniah, ia tidak memasukkan masalah
duniawi yang dilihat, kecuali hanya Allah.”
Manusia
muslim yang bersifat wara' tidak berarti dalam masalah duniawi ia menolak
kehadiran benda-benda duniawi, sama sekali tidak. Mereka tetap memperhatikan
masalah keduniawian dan kelengkapan ucapnya, akan tetapi tidak menempatkan
barang-barang duniawi itu ke dalam hati. Tidak membiarkan benda dunia itu
menguasai hati dan jiwa mereka apalagi membelenggu jiwa. Benda dunia bagi orang
arif yang saleh lagi bermakrifat bukanlah kepentingan yang harus dikejar dan
diunggulkan.
Benda
duniawi itu bukan satu-satunya kelengkapan hidup manusia Sehingga tanpa itu
semua tidak sempurnalah hidup insan ini. Benda dunia ini menurut orang beriman
hanyalah penunjang kebutuhan manusia. Manusia boleh memiliki harta, tetapi
harta itu tidak diletakkan dalam hati, karena harta adalah benda lahiriah yang
letaknya di luar hati dan jiwa kita. Jangan sampai harta benda duniawi itu
melekat dalam hati kita, karena kelak akan mempengaruhi jiwa dan kestabilan
hidup manusia.
Memang
Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia itu suka dan cinta kepada harta benda dan
nafsu syahwat, tetapi tidak berarti benda-benda itu akan menguasai manusia dan
mendominasi pikiran dan jiwa hamba Allah. Sebab, apabila harta benda dunia itu
telah menguasai manusia dan pikirannya, tentu akan mempengaruhi jiwa, dan
selanjutnya menghambat hubungan ibadah insan dan Al Khalik, dan akan menjadi
penghambat taqarrub insan dengan Allah swt. Harta benda tidak lain nvalali
sebagai penunjang hamba dalam melengkapi hidupnya dalam ibadahnya dengan Allah
swt
Setiap orang telah diberi rezeki oleh Allah swt menurut ketentuan dari- Nya sendiri. Hanya dalam hal ini terdapat perbedaan dari masing- masing hamba. Mereka semua memperoleh rezekinya dan menikmati rezeki itu, mengelola dan memakannya. Hanya dalam menikmati rezeki Allah itu berbeda satu dengan lainnya. Ada yang makan dengan menunggu belas kasih atau iba orang lain, ada yang menikmati rezekinya dengan kerja keras, ada yang menikmati dengan menunggu datangnya pembeli, ada yang menikmatinya dengan menanti pembayaran gaji, dan ada yang menikmatinya dengan kemuliaan, yang merasa langsung menerima rezeki sebagai anugerah tak terduga dari Allah, seperti para Sufi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar